Install this theme
resatio:

Dayung SampanAn art work Rupanada Exhibition
Orang-orang Betawi merupakan penduduk lokal yang tinggal di sekitar Batavia (sekarang jakarta).Kebudayaan Betawi sangat terpengaruh oleh banyak kebudayaan lain karena letak geografis Jakarta yang merupakan kota pelabuhan. Penduduk Jakarta kebanyakan adalah keturunan Asia Tenggara seperti Melayu, Sunda, Jawa, Bali, Minang dan keturunan asing seperti Portugis, Belanda, Cina dan Arab. Banyaknya etnis yang mendiami Jakarta mengakibatkan akulturasi budaya yang tidak dapat dihindarkan. Salah satu hasil akulturasi budaya tersebut adalah terciptanya lagu Dayung Sampan. Lagu Dayung Sampan yang diciptakan pada masa kolonial, merupakan lagu bergaya Gambang Keromong, sejenis orkes yang memadukan gamelan dengan alat-alat musik Tiong Hoa. Lagu ini sangat populer pada tahun 1920-an, lalu dipopulerkan kembali pada tahun 1970 saat Teresa Teng menyanyikan lagu ini dalam Bahasa Indonesia, lalu menyanyikannya kembali dengan bahasa Mandarin dan mempopulerkannya ke seluruh Asia. Lagu ini sangat menarik karena merupakan lagu daerah dari Jakarta yang mempunyai pengaruh budaya Tiong Hoa yang sangat kental. Lagu ini menyadarkan kita bahwa kebudayaan Indonesia itu sangat beragam. Tidak hanya terbatas budaya lokalnya saja, tapi budaya hasil akulturasi pun sangat menarik.

www.rupanada.com

resatio:

Dayung Sampan
An art work Rupanada Exhibition

Orang-orang Betawi merupakan penduduk lokal yang tinggal di sekitar Batavia (sekarang jakarta).Kebudayaan Betawi sangat terpengaruh oleh banyak kebudayaan lain karena letak geografis Jakarta yang merupakan kota pelabuhan. Penduduk Jakarta kebanyakan adalah keturunan Asia Tenggara seperti Melayu, Sunda, Jawa, Bali, Minang dan keturunan asing seperti Portugis, Belanda, Cina dan Arab. 

Banyaknya etnis yang mendiami Jakarta mengakibatkan akulturasi budaya yang tidak dapat dihindarkan. Salah satu hasil akulturasi budaya tersebut adalah terciptanya lagu Dayung Sampan. 

Lagu Dayung Sampan yang diciptakan pada masa kolonial, merupakan lagu bergaya Gambang Keromong, sejenis orkes yang memadukan gamelan dengan alat-alat musik Tiong Hoa. Lagu ini sangat populer pada tahun 1920-an, lalu dipopulerkan kembali pada tahun 1970 saat Teresa Teng menyanyikan lagu ini dalam Bahasa Indonesia, lalu menyanyikannya kembali dengan bahasa Mandarin dan mempopulerkannya ke seluruh Asia. 

Lagu ini sangat menarik karena merupakan lagu daerah dari Jakarta yang mempunyai pengaruh budaya Tiong Hoa yang sangat kental. Lagu ini menyadarkan kita bahwa kebudayaan Indonesia itu sangat beragam. Tidak hanya terbatas budaya lokalnya saja, tapi budaya hasil akulturasi pun sangat menarik.

www.rupanada.com

exhibition-ism:

Murals by Hell’O Monsters in Bari, Italy.

nevver:

All roads lead to nowhere, Jim Mangan

nevver:

Nobody lives forever, Ooli Mos

nevver:

Light storm, Martin Kimbell

ssoja:

I’m very very late ! ê___ê’

Here some pics of my children book”The little Red Wolf” ! :>

Now available in french bookstore and on amazon !

(Pretty photos of the book by Jonathan Garnier : http://a-lifi.tumblr.com/ )

ananinuneno